Minggu, 28 Mei 2017
Selasa, 23 Juni 2015
INSPIRASI
Ada masa dimana merasakan bosan, dan adakalanya orang-orang di lingkungan sekitar sangat membosankan, Apa? dengan mengatakan bosan, akan menghilangkan rasa bosan?, tidak!, namun rasa itu selalu hadir, ketika tidak adanya kegiatan yang disenangi, hmm... gunakan lah waktu segang dengan kegiatan bermanfaat, seperti membaca, baik membaca buku, koran, komik, dan majalah. Membaca akan mempengaruhi pola pikir, sehingga mampu membentuk kepribadian. maka dalam memilih bacaan harus hati-hati, dimana hidup adalah pilihan begitu pun memilih buku bacaan yang tepat.
Buku merupakan inspirasi,yang memberikan wawasan, pengetahuan,dan informasi, baik dari segi pendidikan,karir, sosial, dan ekonomi. membaca pun bisa mengasah skill, bisa lebih berkosentrasi,(karena membaca tanpa penghayatan, tidak akan mendapat pemahaman baru), terbiasa untuk mengetahui kosakata baru, kata serapan baru, supaya tidak sulit dalam memahami serta menganalisis suatu bacaan. Membaca itu sangat menyenangkan, orang yang suka membaca cenderung terus membaca, dan senantiasa mencari buku baru. Rata rata orang yang suka membaca menghabiskan waktu 2 jam perhari untuk membaca.
#Selasa 23/06/2015 15;39
#Cumunggut
#Selasa 23/06/2015 15;39
#Cumunggut
Sabtu, 20 Juni 2015
Kapan Lagi?
Kapan Lagi?
"setiap keinginan
terselubung keberanian yang kuat,keberanian akan hilang disaat harapan
pupus,namun disetiap doa tersimpan harapan yang besar".
"saat penantian berakhir sia sia,berujung penyesalan,penyesalan memberikan hikmah.
"pernahkah,menyadari ? bahwasan di setiap kejadian memberikan manfaat." di saat
merasa sendirian,hikmah didapatkan bagaimana bisa tegar,bangkit dari
ketepurukan dan katakan mampu. merasa sendirian itu bukan karena dikucilkan,ataupun ditolak,namun perasaan yang mengecilkan,akan tetapi hati
ikhlas akan memudarkan".
"kehangat dan keakraban akan menyudutkan,perasaan negatif, sehingga menimbulkan perasaan positif, membangkitkan kekuatan, serta keberanian, untuk menujukan jati diri".
"jangan terpaku oleh suatu keadaan yang melemahkan,masih banyak ruang yang harus ditempati,tatkala keinginan itu memberikan dorongan yang kuat.jangan biarkan hati melemah disaat perasaan negatif menyudutkan, alangkah baiknya musnahkan perasaan yang buruk tersebut,hingga keluar pancaran aura hati yang baik. saat hati merasa nyaman keinginan akan menghasilkan keberanian yang matang".
kalau tidak sekarang kapan lagi???
buang rasa takut, munculkan keberanian dan percaya diri.disetiap apa yang diinginkan akan mempengaruhi pola pikir.
Rabu, 22 Oktober 2014
Aktivitas
Sesibuk apapun aktivitas yang dijalani, sempatkan lah untuk terseyum, karena terseyum membuat kita segar, bersemangat, dan bisa mengilangkan stres. dalam menjalani aktivitas, tugas yang banyak jangan jadikan beban, tapi jadikan sebagi kebutuhan. selangi dengan humor, dalam lelah yang dirasa akan memberikan manfaat, sehingga aktivitas yang berat pun akan mudah dijalani, dan akan berdampak kepada orang-orang disekitar, sehingga orang-orang yang didekat kita akan termotivasi. seyum bisa membuat seseorang awet muda, buat lah aktivitas yang dinamis, jangan sampai monoton, sehingga kita lupa untuk terseyum.
#Sibuk+Smiley
#OK
#Bisa!
Jumat, 03 Oktober 2014
Jalan Hidup
Jalan Hidup, Jika memang jalan hidup harus berputar dulu baru sampai tujuan, kenapa harus di persingkat, karena di setiap jalan yang kita lewati, ada beberapa ilmu yang sedang menanti kedatangan, namun jika di lakukan jalan pintas, maka tidak akan pernah menemui ilmu tersebut, ilmu yaitu pengalaman. Jalan pikiran semua orang itu berbeda, namun jika disatukan akan menjadi gagasan dan ide-ide menarik, sehingga ilmu diperoleh akan bertambah banyak, karena selalu ingat.... namun jika save sendiri, maka ilmu tersebut tidak akan berkembang. Setiap orang menginginkan cepat sampai tujuan, tidak menuntut kemungkinan, saya pun demikian, tapi disetiap persingahan jalan yang kita mampiri, memberikan hidayah, namun pada saat mampir di jalan tersebut, tidak merasakan apa-apa, namun setelah beberapa lama tidak ke jalan itu lagi, karena terus berjalan menuju tujuan, disana lah teringat hikmah yang didapatkan. Tujuan disinilah adalah masa depan yang menanti, gerbang kesuksesan yang menunggu dengan ilmu,, yang kita dapatkan. Jangan putus asa,,, tetap semangat... karena setiap individu ditakdirkan bahagia, dan sukses,,, semua itu kembali lagi ke individu bersangkutan. jalan terus jangan mundur......... ganbate...
#ok.!
Titik Terang
hidup penuh dengan lika liku, jangan mau kalah karena suatu hal yang menghalangi tapi bangkitlah, tunjukan pada dunia, dan katakan bisa!!!, mari taklukan rasa malas yang membara, buang jauh-jauh Rasa Malas itu!, rasa malas yang membuat terlena dan pelahan jatuh,... ke bujuk rayuan setan,,, hingga,,, semua aktivitas pun menjadi brantakan,,, rasa malas yang mengoroti hati, harus di tindas, agar tidak merusak diri. orang yang sukses adalah orang yang mampu melawan rasa malas. jika rasa malas pada diri tidak melekat lagi, dengan demikian, dapat ditemui titik terang dalam mengatasi, problema kehidupan. Pada dasarnya rasa malas tersebut datang pada diri, karena suka menunda-nunda pekerjaan, nah di situlah timbul benih malas, yang pada akhirnya menjadi kebiasaan, untuk menemui titik terang permasalahan ini, itu tergantung kepada individu, bagaimana individu dapat mengatasi dan mencari jalan keluar. mengubah pola hidup lebih akan menemui titik terang, agar terhindar dari penyakit malas. jadikan aktivitas sebagai kebiasaan dengan demikian sesuatu yang tidak bisa menjadi bisa, yang bisa menjadi biasa, yang biasa menjadi kebiasaan. semangat.... semangat... semangat,,,, jika kita bersemangat setidaknya bisa mengurangi rasa malas pada diri, dan akahirnya kita temui juga titik terang.
Minggu, 21 September 2014
Dahsyatnya Bangun Pagi, Tahajud, Subuh, & Dhuha . Surakarta : Shahih
Meraih Empat
Kemenangan
1.
KEMENANGAN KE 1 adalah saat kita BANGUN PAGI
2.
KEMENANGAN KE 2 adalah saat kita SHALAT TAHAJUD
3.
KEMENANGAN KE 3 adalah saat kita SHALAT SUBUH berjamaah
4.
KEMENANGAN KE 4 adalah saat kita SHALAT DHUHA
Langkah Praktis Agar Mudah Bangun Pagi
1.
Ikhlas
2.
Miliki Keinginan yang Kuat
3.
Tidak Tidur Terlalu Malam
4.
Berwudhu Sebelum Tidur
5.
3 Tips Praktis (shalat sebelum tidur, pasnag niat yang
kuat, dan pasang alarm ganda)
6.
Selalu Berdoa kepada Allah
7.
Buat Jadwal Kegiatan Esok Hari
8.
Sebuah Metode Afirmasi ( sebagai bentuk sugesti diri yaitu
berbicara pada diri sendiri dengan sepenuh perasaan dan emosi.)
9.
Tidak Melakukan Kemaksiatan
10.
Tidak Terlalau Kenyang
11.
Tidur Siang Walau Sejenak
12.
Mengingat Keutamaan Waktu Sahur
13.
Mengingat Keutamaan Shalat Subuh Berjamaah
14.
Dukungan dari Lingkungan
15.
Memberi Hadiah kepada Diri Sendiri ( hadiah tidak hanya
baik untuk memotivasi anak kecil, namun u/orang dewasa juga efektif, dalam
kebiasaan bangun pagi pun kita bisa memberikan hadiah, yaitu menyenangkan
fisik/jasmani, karena kita telah berhasil bangun pagi dan mampu menghindari
kebiasaan buruk tersebut. Akan tetapi bangun pagi harus disertai dengan shalat
subuh)
“Jika
kamu tidak mampu menunaikan shalat malam dan puasa di siang hari, maka
ketauilah bahwa sesungguhnya kamu telah terhalangi dan terbelenggu oleh dosa
dan kesalahan kamu perbuat” ( Fudhail bin Iyadh )
“Bangun
Pagi dapat mengurangi kecenderungan
terserang penyakit kardiovaskular atau ganguan jantung dan pembuluh
darah” ( Dr. Muslim Nathin )
“
Kampung dunia adalah tempat menabung bekal bekal kebaikan yang nanti akan kita
tuai di alam akhirat. Salah satu jalan
untukbisa mengisi tabungan agar cepat gemuk adalah dengan memulai aktivitas di waktu
pagi”
Literatur : Al-Ikhwani, 2011. Fadlan. Dahsyatnya Bangun Pagi, Tahajud,
Subuh, & Dhuha . Surakarta : Shahih
LINKUNGAN YANG MERASANG PENGEMBANGAN BAKAT
PERANAN
KELUARGA DALAM MENGEMBANGKAN BAKAT ANAK
A. A. Studi
Kasus Tentang Keluarga Anak Berbakat di Indonesia
Penelitian tahun 1982 mengenai studi banding antara
keluarga anak dengan IQ 130 diatas rata-rata, dengan keluarga anak IQ
rata-rata. Hasil studi ini menunjukan bahwa orang tua anak berbakat mempunyai
tingkat pendidikan, jabatan prafesional, dan penghasilan lebih tinggi. Lebih
banyak dari mereka yang mempunyai hobi membaca, walaupun secara umum, kebiasaan
membaca semua orang tua belum tinggi. Taraf aspirasi orang tua anak
berbakat sehubungan dengan pendidikan
anak lebih tinggi. Jumlah anak dalam keluarga lebih kecil dan presentase anak
berbakat yang termasuk anak sulung lebih tinggi. Gambaran keluarga anak
berbakat ini menunjukan kecenderungan yang
sama.
Sehubungan dengan ciri-ciri anak yang menurut orang
tua perlu dikembangkan, dinyatakan bahwa
orang tua anak berbakat lebih mementingkan ciri-ciri ketekunan dan
inisiatif, sedangkan orang tua anak IQ rata-rata lebih mementingkan ciri-ciri
kepatuhan pada anak. Anak berbakat tidak
banyak dituntut oleh orang tua dalammengerjakan tugas dirumah dibanding anak IQ
rata-rata, sehingga anak berbakat memiliki waktu luang yang banyak dalam
melakukan hal-hal yang mereka senangi, namun orang tua dari kelompok anak sama dalam memberikan
prioritas kepada ciri kerajinan dan paling kurang mementikan perkembangan
ciri-ciri kemandirian dan kebebasan. Hal
ini sebetulnya tidak diharapkan dari orang tua anak berbakat karena kedua ciri
tersebut justru merupakan ciri khas anak berbakat dan kreatif.
Mayoritas orangtua
dari kedua kelompok anak , dalammendidik anak tidak terlalu menekan,
pada peraturan yang ketat, serta tidak terlalu memberi kebebasan, akan tetapi
menentukan peraturan dengan mempertimbangkan keadaan dan kebutuhan anak. Tidak
otoriter, tetapi tidak laisses faire.
B. B. Mengembangkan
Kreativitas Anak di Rumah
Dari kasus jason, dapat kita lihat bahwasanya dalam
mengembangkan kreativitas anak diperlukan penerapan pendekatan 4P( pribadi,
pendorong, proses, dan produk). Dalam menampilkan ciri-ciri pribadi kreatif,
ibunya selalu menghargai keunikan pribadi jason, serta mendorong minat dan prakarsa jason dalam menulis lakon, tanpa
memberi tekanan kepada anak, tetapi membebaskan menjajaki dan mencoba
kegiatan-kegiatan kreatif. Demikian membantu tumbuh motivasi instrinsik yang kuat pada anak. Berperan sebagai model dan narasumber, ibun
menunjukan kepada anak, apapun yang dipilih untuk dilakukan, harus dikerjakan
dengan baik sampai selesai. Dengan menyediakan sarana dan prasarasna yang
beragam, ia memudahkan proses bersibuk diri secara kreatif. Dan kemudian ia
menunjukan bahwa ia menghargai produk-produk kreativitas anaknya, dengan
memajang karya-karya tersebut didalam rumah, hal ini akan makin memotivasi anak
untuk melakukan kegiatan kreatif.
C. c. Dampak
Sikap Orangtua Terhadap Kreativitas Anak
a. Beberapa
faktor penentu
Sikap orangtua secara
langsung mempengaruhi kreativitas anakmereka,
Menurut Amabile :
a) Kebebasan
; orang tua percaya serta memberikan kebebasan
kepada anaknya, serta cederung kreatif (tidak otoriter, tidak terlalu
mengawasi, dan mengatasi kegiatan)
b) Respek
; orang tua percaya dengan kemampuan anak,serta menghargai keunikan anak
c) Kedekatan
emosional yang sedang ; keterikatan emosi tidak lebih ataupunkurang, namun anak
benar-benar merasakan kasih sayangdariorangtua.
d) Prestasi
bukan angka ; menghargai perstasi anak.
e) Orang
tua aktif dan mandiri ; kompeten dan
mempunyai banyakminat.
f) Menghargai
kreativitas ; motivasi dari orangtua untukmelakukan hal-hal kreatif.
b. Orang
tua sebagai model
Penelitian menunjukan
bahwa anak kreatif mengidentifikasi diri dengan banyakorang dewasa dari dua
jenis kelamin, dan bahwa komunikasidengan orang dewasa yang menarik,aktif, dan
berprestasi, dapat merasang kreativitas anak. Orang tua juga dapat jadi model yang
kuat hanya dengan menunjukan kepercayaan dan kompetensi mereka. Orang tua dapat membantu anak menemukan
minat-minat mereka yang paling mendalam, dan mendorong anakmelakukan kegiatan
beragam, menunjukan kesempatan dan kemungkinan yang ada.
c. Sikap
orang tua yang menunjang dan tidakmenunjang pengembangan kreatifitas anak
a) Sikap
orang tua yang memupukkreativitas adalah ; menghargai pendapat anak, memberikan waktu untuk anak berpikir,
membiarkan anak dalam nmengambil keputusan, mendorong ketelitian anak, meyakinkan
anak bahwa orang tua menghargai apa yang diinginkan, menunjang, menikmati
kebersamaan, memberi pujian, mendorong kemandirian, dan melatih hubungan
kerja yang baik dengan anak.
b) Sikap
orang tua yang tidak memupuk kreativitas adalah ; mengatakankepada anak jika
salah dihukum, tidak membolehkan anak, sehingga
anak menjadimarah, tidak membolehkan anak mempertanyaan keputusan orang
tua, tidakmemperbolehkan anak bermain, orang tua ketat, orang tua memberi
saran-saran spesifik, orang tua kritis,
otrang tua tidak sabar, orang tua dan anak adu kekuasaan, orang tua menekan dan
memaksa anak untuk menyelesaikan tugas.
D. D. Orangtua
Sebagai Pendukung Program Anak Berbakat
Guru anak berbakat hendaknya mengakui peranan
penting dari dukungan orang tua dan tidak melihat orang tua sebagai ancaman,
misalnya karena terlalu mau ikut campur.perhatian orang tua terhadap kegiatan
mengajar guru dan kerjasama antar guru dengan orang sangat menunjang
keberhasilan program anak berbakat. Kelompok orang tua bisa membantu dengan
menyadarkan orang tua lain akankebutuhan anak berbakat dan kesempatan
pendidikan, yang dapat diberikan kepada mereka, seperti pengorganisasian
kegiatan pengayaan bagi anakbebakat yaitu ; program akhir minggu, atau program
mentor. Orang tua yang memiliki keahlian atau keterampilan khusus dapat
membantu mengajar seni, musik,dan komputer, serta meluaskan kesempatan untuk
anakberbakat.
Referensi ; Munandar,
Utami. 2009. Pengembangan Kreativitas
Anak Berbakat. Jakarta : Rineka Cipta.
Makalah Implikasi Teori belajar Kognitif
KATA
PENGANTAR
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit sekali yang kita ingat.Segala puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul "Implikasi Teori Belajar Kognitif (Lanjutan)".
Dalam penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak, karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dosen pembimbing yaitu : bapak (Winbaktianur ) yang telah memberikan kepercayaan yang begitu besar. Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi.
Meskipun penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun selalu ada yang kurang.Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar skripsi ini dapat lebih baik lagi.
Akhir kata penulis berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.
Wassalam
Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit sekali yang kita ingat.Segala puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul "Implikasi Teori Belajar Kognitif (Lanjutan)".
Dalam penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak, karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dosen pembimbing yaitu : bapak (Winbaktianur ) yang telah memberikan kepercayaan yang begitu besar. Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi.
Meskipun penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun selalu ada yang kurang.Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar skripsi ini dapat lebih baik lagi.
Akhir kata penulis berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.
Wassalam
DAFTAR
ISI
Kata pengantantar....................................................................................................i
Daftar isi.....................................................................................................................ii
BAB I :pendahuluan
A. Latar
Belakang………………........................................................................................1
B. Rumusan
Masalah…………….......................................................................................1
C. Tujuan
Penulisan…………….........................................................................................1
BAB II :Pembahasan
A. Implikasi
Discovery Learning…………………………..……………………………...2
B.
Praktek Ausubel; Expository Teaching……….
………………………………….........4
C. Pemikiran
Tentang Model Belajar Mengajar…………………………………………...6
BAB III :Penutup
A. Kesimpun…………………….………………………………………………………..9
B. Saran…………………………..……………………………………….........................9
Daftar pustaka
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Sebagian
terbesar dari proses perkembangan berlangsung melalui kegiatan belajar. Belajar
yang disadari atau tidak, sederhana atau kompleks, belajar sendiri atau dengan
bantuan guru, belajar sendiri atau dengan bantuan guru, belajar dari buku atau
dari media elektronika, belajar di sekolah dirumah, di lingkungan kerja atau di
masyarakat
.
Belajar
selalu berkenaan dengan perubahan-perubahan pada diri orang yang belajar,
apakah itu mengarah kepada yang lebih baik., direncanakan atau tidak. Hal lain
yang juga selalu terkait dalam belajar adalah pengalaman yang
berbentukinteraksi dengan orang lain dan lingkunganya.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa
Pengertian Implikasi Discovery Learning ?
2. Bagaimana
Praktek Ausebel; Expository Teaching ?
3. Bagaimana
Pemikiran Tentang Model Belajar Mengajar ?
C.
Tujuan
Masalah
1. Untuk
mengetahui Pengertian Implikasi Discovery Learning.
2. Untuk
Mengetahui Praktek Ausebel; Expository Teaching.
3. Untuk
Mengetahui Pemikiran Tentang Model Belajar Mengajar.
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
IMPLIKASI TEORI BELAJAR
KOGNITIF (LANJUTAN)
A.
Implikasi
Discovery Learning
Belajar discovery
Mengenai belajar discovery ada juga yang
menyebutnya sebagai belajar inkuiri atau inquiry learning, tetapi pada dasarnya
merupakan suatu kegiatan beklajar yang mengutamakan aktivitas anak. Inkuiri
menekankan kepada proses mencarinya, sedang diskaveri kepada menemukanya. Kalau
seseorang melakukan pencarian (berinkuiri) kemungkinan besar akan menemukan,
dan suatu penemuan (diskaveri) adalah hasil dari suatu pencarian. Oleh karena
itu keduanya mempunyai makna yang sama. Bentuk atau strategi belajar ini
sesungguhnya juga menekankan proses, dan silatarbelakangi oleh konsep-konsep
psikologi Naturalistik Romantis dan Kognititif-Gestalt.
Pada
strategi atau bentuk belajar-mengajar diskaveri bahan ajaran tidak disajikan
dalam bentuk jadi, tetapi setengah atau bahkan seperempat jadi.Bahan ajaran
disajikan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab atau
masalah-masalah yang harus dipecahkan.
Beberapa
kelebihan strategi strategibelajar-mengajar diskaveri dibandingkan dengan strategi
menerima
1) Dalam
penyampaian bahan, strategi diskaveri menggunakan kegiatan dan
pengalaman-pengalaman langsung dan konkrit. Kegiatan dan pengalaman demikian
lebih menarik perhatian siswa, dan memungkinkan pembentukan konsep-konsep
abstrak yang mempunyai makna.
2) Strategi
belajar-mengajar diskaveri lebih lebih realistis dan punya makna, sebab siswa
bekerja langsung mengaplikasikan kemampuanya.
3) Strategi
belajar-mengajar diskaveri merupakan suatu model belajar pemecahan masalah.
4) Transfer
tidak dinantikan sampai kegiatan lain, tetapi langsung dilakukan, sebab stategi
diskaveri berisi sejumlah transfer.
5)
Strategi diskaveri
banyak memberikan kesempatan bagi keterlibatan siswa dalam situasi belajar.[1]
Disamping Kelebihan sudah tentu strategi
ini juga memliki keterbatasan atau kelemahan.Kelemahan pertama berkenaan dengan
waktu.Belajar-mengajar dengan menggunakan strategi diskaveri membutuhkan waktu
yang lebih lama dibandingkan dengan belajar menerima.
Kelemahan atau
keterbatasan kedua adalah bagi siswa yang berusia muda, kemampuan berpikir rasional
mereka masih terbatas.Dengan belajar diskaveri sangat subjektif untuk
memperkuat prakonsepnya. Kelemahan lain adalah kesukaran dalam menggunakan
faktor subjectivitasnya, terlalu cepat sampai kepada kesimpulan-kesimpulan,
membuat generalisasi yang terlalu umum dari pengalaman yang sangat terbatas.
Keterbatasan keempat adalah faktor kebudayaanatau kebiasaan.Belajar diskaveri
menuntut kemandirian, kepercayaan kepada diri sendiri, kebiasaan bertindak
sebagi subjek.Pada lingkungan yang kurang memberikan peran kepada anak sebagai
subjek, mereka lebih banyak diperlukan sebagai objek, belajar diskaveri
mengalami beberapa kesukaran.
Ada beberapa proposisi
, anggapan dasar berkenaan dengan straregi belajar-mengajar diskaveri ini:
1) Semua
pengetahuan nyata adalah hasil dari penemuan sendiri (self discovery). Pengetahuan-pengetahuan nyata dan praktis yang
dimiliki individu pada umumnya diperoleh dari pengalamanya hasil dari
penemuanya sendiri, sebab setiap orang adalah penemu atau self discoverer.
2) Makan
atau arti dari sesuatu diperoleh dari hasil diskaveri non subverval.
Konsep-konsep abstrak dapat menyebabkan verbalisme.
3) Kesadaran
subverval sebagai kunci dari transfer. Kesadaran subverval merupakan suatu
pemahaman intuitif, pemahaman berdasarkan perasaan spontan tentang sesuatu,
sebelum terumuskan secara cepat dan jelas. Melalui kesadaran subverval individu
dapat lebih cepat memahami dan memecahkan masalah.
4)
Kemampuan memecahkan
masalah masalah sebagai tujuan utama dari pendidikan. Pendidikan diarahkan agar
individu atau anak menguasai sejumlah pengetahuan.
5) Setiap
anak adalah pemikir kreatif. Strategi belajar-mengajar diskaveri mempunyai
asumsi bahwa setiap anak adalah kreatif, dan sekolah bertanggung jawab untuk
mengembangkan agar anak kreatif.
6) Pengajaran
yang bersifat menyajikan ekspositori adalah otoriter.
7) Strategi
diskaveri membangkitkan motivasi dan pembentuk keyakinan kepada diri sendiri.
8) Belajar
diskaveri membangkitkan motivasi dan pemnentuk keyakinan kepada diri sendiri.
9) Belajar
diskaveri adalah sumber utama motivasi intrinsik.
Para
ahli membedakan enam tingkatan belajar-mengajar diskaveri:
1) Tingkat
diskaveri penuh. Pada diskaveri tingkat ini, siswa memilki kebebasan penuh
untuk menentukan bahan dan bentuk kegiatan yang akanmembuat dan mencari mereka
lakukan.
2) Pengarahan
pada tingkat pemikiran siswa. Guru memberikan beberapa pengarahan yang sesuai
dengan tingkat pemikiran siswa, selamjutnya mereka diberi kebebasan untuk,
mengadakan generalisasi dan spesifikasi.
3) Pemberian
intruksi yang pelaksanaanyadiserahkan pada siswa. Pelaksanaanya diserahkan
kepada inisiatif dan kreativitas para siswa.
4) Guru
memberikan sejumlah persoalan (menuliskanya di papan tulis). Setelah itu guru
mengajukan beberapa pertanyaan kepada siswa, agar para siswa generalisasi,
spesifikasi dsb.
5) Guru
memberikan pengarahan tentang suatu generalisasi atau spesifikasi.
6) Guru
memberikan suatu generalisasi tanpa penjelasan, penguraian, contoh-contoh, dsb.
B. Praktek
Ausebel; Expository Teaching
David
P. Ausebel dan Floyd G. Robinson (1969) mengemukakan empat bentujk proses belajar
mengajar, yaitu: belajar menerima (reception learning) dan belajar menemukan (discovery learning), belajar bermakna (meaningful learning) dan belajar
menghafal (rote learning). Belajar
diskaveri lebih mengutamakan kepada proses, sedang belajar menerima lebih
menekankan kepada hasil.
Belajar Menerima
Belajar menerima atau reception
learning disebut demikian apabila dilihat dari sisi siswa, tetapi apabila
dilihat dari sisi guru disebut mengajar ekspositoriatau expository teaching.
Apabila
belajar diskaveri lebih berpusat pada siswa, maka belajar menerima lebih
berpusat pada guru.Bahan pelajaran disusun dan disiapkan dalam bentuk jadi
serta disampaikan oleh guru.Siswa berperan pasif, mereka berusaha menerima,
menghafal, memahami dan menggunakan pengetahuan yang diberikan oleh guru.
Metode
yang paling populer digunakan dalam pengajaran ekspositori atau belajar
menerima adalah ceramah.Metode yang paling praktis dan efisien, dan masih tetap
paling banyak dipakai oleh guru-guru atau para instruktur.Dalam kenyataan
seringkali penggunaan strategi ekspositori ini yang lebih banyak digunakan, dan
dilengkapi dengan strategi diskaveri.
Belajar bermakna dan
belajar menghafal
Ausebel
dan Robinson juga memisahkan anatara belajar bermakna dengan belajar menghafal,
meaningful learning dengan rote learning.Dalam belajar menghafal
siswa berusaha menerima dan menguasai bahan yang diberikan oleh guru atau yang
dibaca tanpa makna.Dalam belajar bermakna ada dua hal penting, pertama bahan
yang dipelajari, dan yang kedua adalah struktur kognitif yang ada pada
individu.Yang dimaksud dengan struktur kognitif adalah jumlah, kualitas,
kejelasan dan pengorganisasian dari penegetahuan yang sekarang dikuasai oleh
individu.
Agar
tercipta belajar bermakna. Maka,ada beberapa syarat-syarat , yaitu:
1) Bahan
yang dipelajari harus dihubungkan dengan struktur kognitif secara substansial
dan dengan beraturan.
2) Siswa
memilki konsep yang sesuai dengan bahan yang akandihubungkan.
3) Siswa
harus memilki keauan untuk menghubungkan konsep tersebutdengan struktur
kognitifnya secara subtansialndan beraturan pula.
Beberapa
bentuk belajar bermakna:
1)
Belajar represensional
Merupakan suatu proses belajar untuk
mendapatkan makna dari symbol-simbol.
2)
Belajar Konsep
Suatu konsep akan mempunyai makan logis
dan psikologis. Makna logis terbentuk karena pemahaman dan makna psikologis
merupakan makna yang diperoleh dari pengalaman pribadi.
3) Belajar
proposisi
Proposisi
merupakan suatu ungkapan yang menjelaskan hubungan anatara dua atau lebih
konsep Proposisi ini ada yang umum dan ada yang khusus
.
4) Belajar
Diskaveri
Belajar
ini menekankan kepada penemuan dan pemecahan oleh siswa sendiri.
5) Belajar
Pemecahan Masalah.
Pemecahan masalah merupakan salah satu bentuk
belajar diskaveri tingkat tinggi.Siswa dihadapkan kepada suatu masalah yang
perlu pemecahan.
6) Belajar
Aktivitas
Belajar ini merupakansuatu belagjar diskaveri
tahap tinggi.dengan bermodalkan potensi-potensi yang dimilikinya siswa dituntut
untuk menciptakan dan melahirkan sesuatu yang baru.
Mengapa
siswa lebih senang belajar dengan menghafal?
1) Karena
belajar dengan cara menghafal adalah yang paling sederhana dan mudah.
2) Karena
adanya kecemasan/perasaan tidak mampu menguasai bahan, sebagai pemecahanya maka
bahan, sebagai pemecahanya maka tahan dicoba dikuasai dengan menghafalkanya.
3) Karena
adanya tekanan pada jalanya pelajaran, untuk menutupi kekurangan-kekurangan
diatasi dengan menghafalkan.
4) Karena
pengalaman dan kebiasaan.
C.
Pemikiran
Tentang Model Belajar Mengajar
1.
Definisi
Belajar
Sebagian orang
beranggapan bahwa belajar adalah semata-mata mengumpulkan atau menghafalkan
fakta-fakta yangtersaji dalam bentuk informasi/materi pelajaran. Orang
beranggapan demikian biasanya akan segera merasa bangga ketika anak-anaknya
telah mampu menyebutkan kembali secara lisa (verbal) sebagian besar informasi yang
terdapat dalam buku teks atau yang diajarkan oleh guru.
Menurut
Skinner, Seperti yang dikutip barlow (1985) dalam bukunya Educational Psycology:The
Teaching-Learning Process, berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses
adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif.
Pendapat ini diungkapkan dalam pernyataan ringkasnya, bahwa belajar adalah . .
. a process of progressive behavior adaptation. Berdasarkan
eksperimennya, B.F. Skinner percaya bahwa proses adaptasi tersebut akan
mendatangkan hasil yang optimal apabila ia
diberi penguat (rainforcer).
Dalam penjelasan
lanjutanya, pakar psikologi belajar itu menambahkan bahwa pengalaman hidup
sehari-hari dalam bentuk apapun sangat memungkinkan untuk diartikan sebagai
belajar. Sebab, sampai batas tertentu
pengalaman hidup juga berpengaruh besar yterhadap pembentukan kepribadian
organism yang bersangkutan. Mungkin, inilah dasar pemikiran yang mengilhami gagasan
everyday learning (belajar
sehari-hari) yang dipopulerkan oleh Profesor John B. Biggs.
Reber dalam
kamus susunanya tergoling modern, Dictionary
Of Psychology membatasi belajar dengan dua macam definisi. Pertama, belajar adalah The Process of Acquiring knowledge,
yakni proses memperoleh pengetahuan. Pengertian ini biasanya lebih sering
dipakai dalam pembahasan psikologi kognitif yang oleh sebagian ahli dipandang
kurang representative karena tidak mengikutsertakan perolehan keterampilan
nonkognitif.
Kedua, belajar
adalah A relatively permanent change in
respons potentiality which occurs as a result of rainforced practice, yaitu
suatu peruabahan kemampuan bereaksi yang relative lenggeng sebagai hasil
latihan yang diperkuat.
Dalam definisi ini terdapat empat
macam istilah yang essensial yang perlu disoroti untuk memehami proses belajar.
1. Relatively permanent,
yang secara umum menetap.
2. Response potentiality,
kemampuan bereaksi
3. Reinforcel,
yang diperkuat
4. Practise,
Praktik atau latihan.
2.
Contoh
Belajar
Seorang anak biasanya dapat merepon stimulus yang diberikan oleh guru
atau yang diajarkan oleh gurunya. Walaupun apa yang dilakukan anak itu tidak
tepat/teratur, namun jika anak itu mempelajarinya dengan sungguh-sungguh dan
berulang-berulang majka anak tersebut dapat belajar dengan baik dan sempurna.
3.
Definisi
Mengajar
Pengertian yang umum dipahami orang
terutama mereka yang awam dalam bidang-bidang studi kependidikan, ialah bahwa
mengajar itu merupakan penyampaian pengetahuan dan kebudayaan kepada siswa.
Arifin(1978)
mendefinisikan mengajar sebagai “…suatu rangkaian kegiatan penyampaian bahan
pelajaran kepada murid agar dapat menerima, menanggapi, menguasai, dan
mengembangkan bahan pelajaran itu.
Tyson dan
Caroll (1970),setelah mempelajari secara seksama
sejumlah teori pengajaran, menyimpulkan bahwa menajar adalah sebuah cara dan
sebuah proses hubungan timbal balik antara siswa dan guru yang sama aktif
melakukan kegiatan.
Nasution (1986)
berpendapat bahwa mengajar adalah “…suatu aktivitas mengorganisasi atau
mengatur lingkungan sebaik-bauknya dan menghubungkan dengan anak, Sehingga
terjadi proses belajar”. Lingkungan dalam pengertian ini tidak hanya ruang
kelas (ruang belajar), tetapi juga meliputi guru, alat peraga, perpustakaan,
laboratorium, dan sebagainya yang relevan dengan kegiatan belajar siswa. Biggs (1991), seorang pakar psikologi
kognitif masa kini, membagi konsep mengajar dalam tiga macam pengertian.
a. Pengertian
kuantitatif (yang menyangkut jumlah pengetahuan yang diajarkan)
b. Pengertian
institutional (yang menyangkut kelembangan atau sekolah).
c. Pengertian
kualitatif (yang menyangkut mutu hasil ideal).
4.
Contoh
Mengajar
Selaku penelola kegiatan siwa, guru sangat
diharapkan menjadi pembimbing dan membantu para siswa, bukan hanya ketika
mereka berada dalam kelas saja .Melainkan ketika mereka berada di luar kelas,
khususnya ketika mereka berada di lingkungan sekolah seperti diperpustakaan, di
laboratorium, dan sebagainya. Dalam hal menjadi pembimbing, guru perlu
mengaktualisasikan (mewujudkan) kemampuanya dlam kegiatan-kegiatan sebagai
berikut; 1) Membimbing kegiatan belajar
para siswa; 2) Membimbing pengalaman para siswa.
Membimbing kegiatan belajar siswa, khusunya ketika
mengajar tidak hanya berarti berceramah di muka kelas, tetapi juga memberikan
peluang seluas-luasnya kepada siswa tersebut untuk melakukan aktivitas
belajarnya. Contoh; jika para siswa sedang diajari siswa sedang diajari
menulis, maka para siswa itulah yang seharusnya lebih banyak mendapat peluang menulis,bukan
guru. Tugas guru dalam hal ini adalah memberi contoh dan dorongan
persuasif kepada para siswa serta menata
lingkungan sebaik-baiknya, Sehingga memungkinkan mereka belajar dengan mudah.
Lingkungan dalam hal ini meliputi guru, papan tulis, pensil dan buku tulis para
siswa serta perlengkapan lainya yang terdapat dalan ruang kelas.
Selanjutnya, selain membimbing, mengajar juga harus
berarti membantu siswa agar berkembang dan dapat menyesuaikan diri dengan
lingkungannya. Alhasil, kegiatan mengajarkan sebuah materi pelajaran bukan
semata-mata agar siswa menguasai pengetahuan/materi pelajaran tersebut,
melainkan juga agar ia memanfaatkan pengetahuan dan keterampilanya dalam
kehidupan sehari-hari.[2]
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Belajaradalah
kegiatan yang berproses dan merupakan unsure yang sangat fundamentl dalam
setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil
atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses
belajar yang dialami siswa, baik ketika ia berada disekolah maupun di
lingkungan rumah atau keluarganya sendiri.
Oleh
karenanya, Pemahaman yang benar mengenai arti belajar dengan segala aspek,
bentuk,dan manifestasinya mutlak diperlukan oleh para pendidik khususnya para
guru. Kekeliruan atau ketidaklengkapan persepsi mereka terhadap proses belajar
dan hal-hal yang berkaitan denganya mungkin akan mengabaikan kurang bermutunya
hasil pembelajaran yang dicapai peserta didik.
B.
SARAN
Berdasarkan makalah yang penulis susun tentu
sangat jauh dari kesempurnaan.Karena kesempurnaan itu hanya milik ALLAH
SWT.Akan tetapi bukan berarti kita tidak boleh menuju kesempurnaan.Oleh sebab
itu, dalam penulisan makalah ini penulis sangat mengharapkan kritikan dan saran
dari pembaca agar makalah ini bisa mendekati kesempurnaan.Atas kritikan dan
sarannya penulis ucapkan banyak terima kasih.
DAFTAR PUSTAKA
Syaodih,Nana. 2003. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung ; PT Remaja
Rosdakarya
Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan. Bandung ; PT Remaja Rosdakarya.
Langganan:
Postingan (Atom)